Kamis, 30 Desember 2010

SKRIPS PKN 2010

BAB I


PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya adalah bagian dari kebudayaan yang sedang berkembang kea arah peradaban, pendidikandewsa ini khususnya di Indonesia merupakan salah satu program pemerintah yang sedang di galakan bagi seluruh lapisan masyarakat melalui jalur pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Penyelenggaraan system pendidikan mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan zaman, sekrang pemerintah memberlakukan UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional menggantikan UU. RI. No. 2 tahun 1989, undang-undang yang baru tentu mempunyai tujuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini.

Tujuan dari pada pendidikan pada saat ini lebih menekankan pada watk dan potensi diri, seperti yang tertuang dalam UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nsional yang berbunyi yaitu :

“pendidkan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang Demokrasi serta bertanggung jawab”



Pembinaan sikap disiplin pada tata tertib siswa sekolah yang sangat diharapkan mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada pada diri siswa, dimana siswa dapat mampu mengembangkan kecerdasan intelektua maupun kecerdasan emosional.

Penyelenggaraan pendidikan perlu diperhatikan pendidikan moral bagi peserta didik sebagai generasi muda karena untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, tidak dapat dilepas dari proses pembelajaran dalam menciptakan belajar secara psikolog dan pedagogic menunjang secara baik terhadap sikp disiplin untuk mewujudkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila. Kedaan masarakat Indonesia dewasa ini terutama dikota-kota besar dengan besarnya arus globalisasi yang sulit dibendung, kita akan rasakan bahwa sebagian moral masyarakatb merosot serta telah bergesernya nili-nilai budaya bangsa Indonesia karena pengaruh dari budaya asing yang kebanyakan bertentaangan dengan perilaku bangsa Indonesia. Belakang ini banyak keluhan dari para orang tua, pendidik dan tokoh masyarakat yang berkecimpung dalam agama, social dan budaya mengidentifikasikan bahwa anak-anak yang berusia sekitar belasan tahun dan mulai remaja perilaku sangat sulit dikendalikan karena banyak pengrusakan sarana umum, pemerasan, penganiayaan, penyalahguanaan obat-obatan terlarang dan sebagainya, maka perbuatan kenakalan dilakukan oleh para remaja telah menimbulkan dan bukan saja kekhawatiran dan keprihatinan pendidik serta tokoh masyarkat tetapi juga mengganggu ketertiban umum, merusak sumberdaya mansia dan menghancurkan masa depan remaja itu sendiri, yang sudah sangat mulai meninggalkan nili-nilai norma-norma dan budaya yang merupakan cirri daripada perilaku bangsa yang terkandung di dalam masyarakat serta dapat kecenderungan telah pudarnya kepekaan dalam hati nurani.

Salah satu upaya untuk dapat menanggulangi kondisi tersebut, antara lain harus melalui jalur pendidikan di sekolah tentunya, terutama khususnya Pendidikan Moral melestarikan nilai luhur dan moral yang berakarkepada budaya bangsa Indonesia, pelestarian nilai luhur dan nilai moral, maka diharapkan dapat diwujudkan dalam membentuk perilaku sehari-hari peserta didik baik sebagai individu maupun makhluk sosaial sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Maka jabatan guru banyak tugas sebagai bentuk ari pengabdiannya, sementara itu proses pembelajaran PKn mempunyai fungsi dan peran khusus dalam menerapkan nilai moral terhadap anak didik, pembentukan kepribadian yang yang berjiwa pancasila. Proses pembeljaran tidak hanya terbatas di sekolah saja akan tetapi bergeser dan menembus masyarakat, jadi jelas proses pembelajaran bukan hanya kegiatan didalambukan hanya kegiatan di dalam kelas semata melainkan juga mrnjadi teladan dalam masyarakat, sehubungan dengan kedudukn, guru PKn berkewajiban membawa anak didiknya menjadi manusia Indonesia yang memiliki jiwa rasa kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab serta sebagai warga negara yang baik “to be good citizenship”



Pranan guru dalam tugas yang baik seharusnya memiliki semangat dedikakasiyang dan kadar bakti yang tinggi karena dengan melalui pendidikan yang baik dan lengkap dan melahirkan kondisi keterpaduan antara guru dan orang tua siswa, dengan demikian perkembangan kepribadian siswa akan berjalan dengan baik dan lancar sesuia harapan kita semua pihak, atas dasar itu penuh terdorong untuk melakukan penelitian yang di beri judul “Peranan Proses Pembelajaran PKn Terhadap Pembinaan Sikap Disiplin Pada Tata Tertib Sekolah di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun Desa Muara Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak”



B. Rumusan Masalah

Dari setiap masalah yang diteliti tentu saja harus ibatasi tuang lingkupnya agar tidak terlalu luas dan tidak menyimpanag dari tujuan peneliti seperti dikemukakan oleh Engkoswara (1995:79)

“untuk menghindari agar masalah yang menjadi objekpenelitian tidak menyimpang mka, kita perlu membatasisuatu masalah disamping mempunyai fungsi jangan sampai menyimpang dari sasaran pokok penelitian, juga penting dilakukan dengan tujuan untuk memperjelas objek-objek penelitian yang sebenarnya”



Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah penelitian ini adalah, paling utama yang menjadi focus penelitian dapat dirumuskan secara umum terebih dahulu “Bagaimana peranan proses pembelajaran dalam membentuk sikap disiplin pada tata tertib sekolah yang baik di Madarasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun”

Agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terarah, maka penuh membatasi masalah-masalahnya yaitu sebagai berikut

1. Bagaiamana proses pembelajaran PKn di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binaungeun Desa Muara Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak ?

2. Bagaimana pembinaan sikap disiplin pada tata tertib sekolah di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binaungeun Desa Muara Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak ?

3. Bagaimana pranan proses pemeblajaran PKn dapat membina sikap isiplin pada tata tertib sekolah di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binaungeun Desa Muara Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak



C. Tujunan dan Kegunaan Penelitian



1. Tujuan Penelitian

Membentuk siswa dapat menjadi dsisiplin yang sangat sesuai dengan pembelajaran PKn di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun

a. Untuk dapat mengetahui bagaiman proses belajar maengajar PKn dalam upaya membina siswa di sekolah

b. Untuk mengetahui disiplin pada tata tertib sekolah di Madrasah Aliyah Mathl’ul Anwar Binuangeun

c. Untuk mengetahui pranan proses pembelajaran PKn dalam membina sikap disiplin pada tata tertib sekolah di Madarsah Aliyah Matla’ul Anwar Binuangeun



2. Kegunaan Hasil Peneliti

a. Kegunaan Hasil Teoritis

Penuh mengharapkan dapat menemukan gambaran mengenai proses pembelajaran PKn dalam mengembangkan sikap disiplin pada tata tetib sekolah yang baik di sekolah, selain itu juga pengembangan ilmu pengetahuan, hasil penelitian diharapkan berguna dalam rangka memberikan informasi untuk mempekaya dan untuk melengkapi penelitian yang sebelumnya.

b. Kegunaan Praktis

1. Untuk memberikan masukan tentang program pembelajaran yang diberikan dalam pengembangan sikap disiplin pada tata tertib sekolah

2. Untuk memberikan masukan kepada guru PKn pada penggunaan metode pembelajaran dalam pengembangan disiplin pada tata tertib sekolah

3. Serta memberikan masukan kepada guru PKn tentang hambatan yang di temui dalam mengembangkan sikap disiplin pada tata tertib sekolah

4. Untuk memberikan masukan kepada guru PKn tentang upaya yang yang di laksanakan dalam mngembangkan sikap disiplin pada tata tertib sekolah



c. Varibel dan Indikator Penelitian

Dalam penelitian ini perlu mempunyai dua variable yaitu :

1. Variable bebs = varaibel yang tidak terkait tetapi dpat mempengaruhi variable lain, dan mempunyai indicator-indikator sebagai berikut :

 Guru

 Siswa

 Materi pembelajaran

2. Variable terikat pada tata tertib sekolah, yang di pengaruhi oleh variable bebas indicator-indikatornya sebagai berikut :

 Datang kesekolah tepat waktu

 Selalu berpakaian rapih

 Berbahasa Indonesia yang baik

 Tidak terlibat perkelahian

 Tidak terlibat narkoba

 Slalu menghormati guru, teman sekolah, maupun lingkungan sekitar



d. Anggapan Dasar

1. Anggapan Dasar

Anggapan dasar suatu hal yang diyakini betul-betul kebenarananya oleh peneliti, yang harus dirumuskan dengan secara jelas, yang berguna untuk memperjelas, menetapkan objek penelitian, wilayah tentunya dalam pengambilan data dan instrumen pengumpulan data yang diproleh berdasarkan teori diatas dirumuskan anggapan dasar sebagai berikut :

a. Proses pembelajaran PKn pada lembaga sekolah dalam penyampaiannya maka harus utuh, bulat dan berkesinambungan sehingga diharapakan mampu membina siswa yang benar-benar mantap dan tangguh sebagai siswa yang berkepribadian Indonesia, berjiwa Pancasila serta sadar akan tugas dan tanggung jawab terhadap diri, masyarakat, bangsa dan negara.

b. Pembinaan sikap disiplin siswa pada tata tertib sekolah di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun yang dipengaruhi oleh lingkungan dan ragam latar belakang kedaan siswa namun tdak lepas dari sikap disiplin pda tata tertib yang bermoral

c. Pembelajaran PKn sangat berpengaruh dalam membina sikap disiplin siswa Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun



2. Hipotesis

Hipotesis salah satu merupakan dugaan yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul, S. Margono. (1997:34)

a. Jika proses pembelajaran PKn dapat terlaksana dengan baik, akan menghasilkan prilaku/sikap siswa yang baik

b. Jika metode yang digunakan guru dalam PKn sesuai dengan karakter siswa, akan menghasilkan sikap disiplin pada tata tertib sekolah yang baik pula



a. Metode dan tekhnik Penelitian



1. Metode Penelitian

Metode penelitian ini yang perlu dan digunakan dalam penelitian adalah deskriptif, metode deskriptif ini dgunakan untuk menggambarkan gejala yang terjadi ada pada masa sekarang, penelitian mengumpulkan data tersebut mengenai variable-variabel yang diteliti, setelah itu mengelola data dan mengumpulkannya data tersebut untuk memecahkan masalah yang ditetapkan, meted deskrifsi menurut Minarno Surakhman (1985:21) mempunayai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Memusatkan diri kepada masalah yang ada pada masa sekarang

b. Data ang dikumpulkan mula-mula disusun, kemudian dijelaskan, kemdian di analisis (karena metode ini sering sekali disebut metode analitis)



Kemudian untuk melaksaakan segala aspek penelitian deskriptif sebagamana yang dikemukakan oleh Mahmud Ali (1992:125) bahwa pelaksanaan penelitian dengan persiapan matang dan mengindahkan aturan metodologi temuan yang dihasilkan akan memberi manfaat.

2. Tehknik Pengmpulan Data

Berbagai masalah yang dirumuskan dengan metode pnelitian, agar data-data yang actual dan relevan dapat terkumpul maka perlu mempergunakan system atau bebrapa tekhnik mengumpulan data sebagai berikut :

a. Observasi

Observsi adalah suatu tekhnik penelitian yang dilakukan dengan cara meleakuan pengamatan terlebih dahulu secara langsung terhadap objek yang diteliti dengan melakukan mencatat secara sistematis. Perlu mengamati langsung kepada beberapa responden yaitu siswa dan siswi Madrasah Aliyah Mathlu’ul Anwar Binuangeun .

b. Angket

Dengan cara tekhnik unuk pengumpulan data, mengajukan beberapa pertanyaan tertentu kepada respnden. Dalam hal ini perlu menggunakan angket salah satu jawabannya saja. Angket merupakan salah satu alat dimana data beruapa daftar pertanyaan seara tertentu dengan demikian,kemungkinan jawban yang diberikan kepada responden (siswa/siswi) kelas XI.IA, guna untuk memproleh data tentang keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar PKn di sekolah yaitu tentang proses pemblajran PKn terhadap prilaku siswa sebagi warga Negara yang baik.



b. Populasi dan Sampel Penelitian



1. Populasi

Populasi adalah wilayah dimana generalisasi yang terdiri objek dan subjek yang mempunyai kuantitas serta krakteristik yang berbeda ditentukan yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulannya. setelah peneliti menentukan rumusan. tujuan, metode penliti barulah menentukan ojek penelitian.objek yang akan diteliti adalah siswa, guru PKn di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun, lebih jelas bagi populasi dikemukakan oleh Hidayat (1995:27) bahwa:



“populasi adalah sejumlah indiviu atau suatu objek yang terdapat dalam kelompok tertentu yang dijadikan sumber data, yang berada dalam daerah jelas batas-batasnya.Mempunyai kualitasnya unik serta memiliki keseragaman ciri-ciri di dalamnya yang data di ukur secara kuantitatif untuk memperoleh kesimplan penelitian”



Mengacu pada pendapat di atas bahwa populasi yang akan diteliti adalah Siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun yang terdiri dari 147 siswa yag dibagi lima rombongan belajar.(Rombel)



2. Sampel

Adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.adapun pengertian sample yang dikemukakan oleh Hiayat ( 1995:29) adalah:



“sampel adalah cuplikan dari seluruh populsi yang memiliki ciri-ciri tertentu yang rerpresentif terhadap populasi dari mana sampel itu di ambil secara teliti dan melalui prosedur yang dapat dipertanggung jawabkan”



Sampel yang diambil dari penelitian sampel bertujuan purposive sampel. Sampel ini digunakanuntuk mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan sehingga tidak dapat mengambil sampel yang lebih luas

Sampel ini sependapat dengan Armico (1993:113) bahwa :

“Penelitian bisa menentukan sampel berdasarkan tujuan tertentu”

Peneliti mengambil sampel pada kelas XI. IA di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Binuangeun yang berjumlah 21 siswa.



















BAB. II

TINJAUAN TEORITIS



A. Tinjauan Umum Tentang PKn



1. Pengertian PKn

PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang signifikan atau mengemban semua misi dalam pendidikan politik dan hukum, dengan taretnya yaitu membina siswa melek poitik, artinya bahwa siswa diharuskn untuk tahu, paham, mengerti, meyakini dan menegakan atau melaksanakan secara pribadinya. PKn dapat diartikan sebagai upaya untuk mengembangkan, menanamkan dan bisa membina anak didik sehingga mereka memiliki tanggung jawab untuk memahami, menghayati serta mengamalkan nilai-nilai luhur moral pancasila kedalam diri para peserta didik sehingga diharapakan timbul kesadaran akan pentingnya tatanan nilai moral tersebut dan keyakinan. Dengan demikian nilai-nilai luhur tersebut maka dihrapkan dapat dimanifestasikan dalam wujud sikap, tingkah laku maupun kepribadian peserta didik (siswa) didalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat, sekaligus menjadi peoman dalam kehidupan.

Yang dimaksud pendidikan Pancasila dan Kwarganegaraan sebagai mana tercantum dalam GBPT SLTP 1994, yaitu sebagai berikut:



“Pendidikan pancasila adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya luhur Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalambentuk perilaku alam kehidupan sehri-hari bagi peserta didik, baik sebagai individu maupun sbagai anggota masyarakat dan makhluk hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa”



Perilaku yang dimaksud yaitu perilaku yang memancarkan iman dan taqwa terhadap Than Yang Maha Esa yang terdiri dari berbagai golongan agama, politik yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, maka perilaku yang mendukung persatuan bangsa dalam masyarakat jua yang beaneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama diats kepentingan perorangan serta golongan sehingga perbedaan pemikiran, pendapat atau perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan Pancasila ini dan Kwarganegaraan juga dimaksudkan untuk membekali peserta didik (siswa) dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara serta negara lain, agar menjadi warga negara yang baik dn dapat diandalakan oleh bengsa dan negara.

Pendidikan Pncasil dan Kwarganegaraan yaitu sebagai mata pelajaran yang mengajarkan tentang nilai moral di sekolah tentunya, dan mempunyai peran tugas lebih berat dibandingkan dengan mata pelajaran lain, karena Pendidkan Pancasila dan Kwarganegaraan (PKn) memberikan sumbangan secara langsung terhadap perkembangan kepribadian siswa di sekolah. Dengan peran yang besar itulah maka mata pelajaran PKn di sekolah harus benar-benar dipelajarkan kepada siswa agar maksud dan tujuan yang diharapkan tercapai, maka PKn dapat diartikan sebagai pendidikan nilai dan pendidikan kwarganegaraan yang membina, sikap disiplin Pada tata tertib siswa sehari-hari yang lebih baik di sekolah, sebagai warga negara yang baik an bertanggung jawab, sadar akan harga diri, hak dirinya juga orang lain, pemerintah dan negaranya, serta mampu melaksanakannya dalam bermasyarakat dan bernegara.

Pendidikan Pancasila Dan Kwarganegaraan (PKn) dikembangkan agar dapat meletakan dasar pembentukan watak kepribadian juga penenaman dan pemahan agama serta budi pekerti dalam menyikapi sikap disiplin dengan demikian diperlukan juga keteladanan yang membantu suasana yang mengarah terhadap perkembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan.



2. Tujuan dan Fungsi PKn

Dalam buku A Kosasih Djahiri mengenai tujuan Kurikulum PKn SLTP yaitu adalah :

“Membina manusia yang berbudaya Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sadar akan harkat dan martabatdiri dan bangsa dan negaranya Demokratis, Melek Politik, Hukum sretamampu berperan serta secara aktif kreatif dalam kehidupan masyarakat madani, Indonesia dan negara hukum konsitusional demokratis Republik Indonesia”



Sesuai dengan rumusan tujuan diatas, dapat dipahami bahwa bidang studi Pendidikan Pancasila dan Kwarganegaraan (PKn) tidak hanya menekankan ada salah satu aspek kehidupan, tetapi dapat di pandang dan upaya yang teratur dan Continue dalam proses belajar mengajar yang diciptakan oleh hubungan anatara guru dan siswa sesuai tuntutan moral pancasila

Fungsi Pendidikan Pancasila dan Kwarganegaraan menurut pendapat prof. Drs. Kosasih Djahiri, adalah :

a. Salah satu program pendidikan nilai, moral dan norma yang harus membina totalitas diri peserta didik, yaitu pola pikir, sikap dan prilaku serta prilaku yang berasaskan nilai, moral, norma Pancasila dan UUD 1945. Peserta didik dan keluaran sekolah harus benar-benar melaksanakan dan mentaati karena Pancasila dengan penuh keyakinan dan nilai.

b. Sebagai program pendidikan politik, dengan tugas dan peran pembian peserta didik menjadi warga negara Indonesia yang melek politik, yaitu warga negara memiliki sikap-sikap yang :

1. Sadar akan adanya hukum dan UUD 1945, dalam arti memhami dengan baik tata keharusan untuk bermasyarkat dan bernegara serta hak dan kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga negara.

2. Sadar akan pembangunan dalam arti memahami dengan baik apa yang sudah dan sedang akan dilaksanakan masyarakat dan negara juga bertanggung jawab kan pemabngunan

3. Sadar kan masalah yang timbul dan yang akan sedang akan dihadapi dirinya, masyarakat dn negaranya dalam melksanakan hal-hal tersebut diatas.

4. Sebagai program mata pelajaran PKn dan lanjutan dengan membina pembekalan, kemampuan dn keterampilan untuk mata pelajaran bagi mereka yang mampu serta untuk belajar sepanjang hayat.



3. Program Pembelajaran dan Metode Belajar Mengajar PKn

Program pembelajaran adalah suatu pembelajaran yang dibuat oleh guru sebagai acuan dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran meliputi satuan pelajaran dan rancangan pembeljaran yang didalamnya mencakup materi, metode, tujuan dan target yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.



Proses pembelajaran PKn pada persekolahan dalam penyampaian harus utuh, bulat dan berkesinambugan sehingga diharapkan mampu membina siswa yang benar-benar mantap dan tangguh sebagai warga negara yang berkpribadian Indonesia. Berjiwa Pancasila serta sadar akan tugas dan tanggung jawab terhadap diri, masyarkat, bangsa dan negara,



4. Guru PPKn



1. Pengertian Guru

Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak boleh dilakukan oleh orang lain yang tidak mempunyai keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru.orang yang pandai bicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru professional yang harus menguasai betul seluk beluk pendidikan dan pengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.

Menurut Drs. NA. Ametembun, guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individu ataupun klasik, baik disekolh maupun diluar sekolah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individu ataupun klasik, baik disekolh maupun diluar sekolah.

Untuk menjadi guru menurut Prof. DR. Zakiyah Darajat dan kawan-kawan (1992:41) tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyratan seperti dibawah ini :

a. Takwa Kepada Allah SWT

Guru sesuai dengan tujuan ilmu pendidikn islam tidak mungkin mendidik anak didiknya agar bertaqwa kepada Allah SWT, jika ia sendiri tidak bertaqwa keadaNya sebab ia teladan bagi anak didiknya sejauh mana orang tua mampu member teladan yang baik kepada semua anak didiknya, sejauh itu pula ia diperkirakan akan berhasil mendidik mereka agar menjadi penerus bangsa yang baik dan mulia.

b. Berilmu

Guru harus mempunyai ijazah agar diperbolehkan mengajar. Karena semakin tinggi pendidikan guru maka makin baik pendidikan dan pada gilirannya makin tinggi pula derajat masyarakat.

c. Sehat Jasman

Kesehatan jasmani kerap kali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular, sangat membahayakan bagi kesehatan anak-anak.disamping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah mengajar.

d. Berkelakuan baik

Budi pekerti guru penting bagi pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Dintara tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri prilaku anak didik dan ini hanya mungkin bisa dilakukan jika guru berakhlak mulia pula. Guru yang tidak berakhlak mulia tidak mungkin dipercaya untuk mendidik. Yang dimaksud dengan akhlak yang sesuai dengan ajaran islam adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran islam, seperti dicontohkan oleh pendidikan utama, Nabi Muhammad saw. Diantara makhluk mulia itu adalah mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi, bekerja sama dengan guru-guru lain, bekerja sama dengan masyarakat



2. Tugas, Peranan dan Upaya Guru



a. Tugas Guru

Guru adalah figure seorang pemimpin. Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didiknya. Guru mempunyai kekuasan untuk membentuk dan membangun prilaku anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusia sosial yang cakap yang dapat diharapkan membangun dirinya dan membangun bangsa dan negaranya.

Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnlogi. Tugas guru sebagai suatu profesi adalah mendidik, mengajar dan melatih anak didik. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan dan menerapkan dalam kehidupan demi masa depan anak didik.

Tugas kemanusiaan salah satu segi tugas guru karena guru harus terlibat dalam kehidupan bermasyarakat dengan interaksi social. Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik dengan begitu anak didiknya mempunyai sifat, tingkh laku dan prilaku yang baik. Dibidang kemasyarakatan merupakan tugas guru yang juga tidak kalah pentingnya karena guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menajdi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila. Apalagi dirinci lebih jauh tugas guru menurut Roestiyah N.K, bahwa guru dalam mendidik anak didik bertugas untuk :

1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman.

2. Membentuk prilaku anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan Pancasila.

3. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik.

4. Sebagai perantara dalam mengajar.

5. Guru adalah sebagai pembimbing, untuk anak didik kearah kedewasaan, pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak menurut sekehendaknya.

6. Guru adalah sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.

7. Sebagai penegk disiplin, guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan bila guru dapt menjalani lebih dahulu.

8. Guru sebagai dministrator dan manger.

9. Pekerjaan guru sebagai suatu profesi.

10. Guru sebagai perencana kurikulum.

11. Guru sebagai pemimpin.

12. Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.



b. Peranan Guru Dalam Proses Belajar Mengajar



“Proses pembelajaran adalah terciptanya serangkian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilkukan dalam suatu situasi tertentu serta hubungan dengan kemjuan perubahan tingkh laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.” (Wringhtman, 1997. Dikutip dari buku Uzer Usman 2002:4)



Proses pembelajaran dalam proses belajar mengajar meliputi berbagai hal yaitu:

1. Guru sebagai perencana (programmer/planner), dalam arti, penampilannya saat mengajar didasarkan pada rencana skenario yang dipersiapkan sebelumnya.

2. Guru sebagai pelaksana pembelajaran yang baik, dalam arti, setiap penampilannya benar-benar disesuaikan dengan apa yang direncanakan sebelumnya.

3. Guru sebagai fasilitator, dalam arti membantu memberikan fasilitas, kemudahan, kelancaran dan keberhasilan belajar siswa; guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencpaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku teks, majalah maupun surat kabar.

4. Guru sebagai dministrator, dalam arti, memiliki dan melaksanakan administrasi (pencatatan dan dokumen ) siswa dalam pengelolaan program instruksional. Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian seorang guru dapat berperan sebagai berikut :

a. Pengambilan inisiatif, pengarah dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan.

b. Wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi anggota suatu masyarakat.

c. Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Guru bertanggung jawab untuk mewariskan kebudayan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.

d. Penegak disiplin

e. Pelaksana administrasi pendidikan, selain pengajar gurupun bertanggung jawab akan kelancaraan jalannya pendidikan dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan pengadministrasian.

f. Pemimpin generasi muda.

g. Penerjemah kepada masyarakat yaitu guru yang berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat.

5. Guru sebagai evaluator, dalam arti, mampu menilai keadaan dan keberhasilan pembelajaran para siswanya: artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan selalu mengadakan penilaianterhadap hasil yang dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.

6. Guru sebagai pengelola (manager) kelas, dalam arti, mempersiapkan dan menyesuaikan proses belajar mengajar sesuai dengan kondisi keadaan menuju terbinanya kelas yang tertib dan menyenangkan, tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar-mengajar agar mencapai hasil yang baik sedangkan tujun khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-Alat belajar, menyiapkan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar secara efektif dikalangan siswa. Sebagai manager guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelas agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan social didalam kelas.

7. Guru sebagai rewerder dalam arti menyadari pentingnya pembinaan motivasi melalui pemberian ganjaran pada siswa dalam waktu yang tepat, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamiskan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika dalam proses belajar mengajar.

8. Guru sebagai pengarah (director) dalam arti mampu menuntun arah tujuan proses belajar mengajar dan pengajaran sesuai dengan target nilai dan tujuan pembelajaran khusus.

9. Guru selaku pembuat keputusan dalam arti setiap saat harus mengambil keputusan tertentu sehingga kelangsungan proses belajar mengajar dan keberhasilannya menjadi lebih sesuai dengan apa yang teleh direncanakan.

10. Guru selaku korector harus dapat membedakan mana nilai yang baik dan buruk. kedua nilai yang berada ini harus betul-betul di pahami dalam kehidupan di masyarakat. Kedua nilai ini telah anak didik memiliki dan mungkin pula telah mempengaruhi sebelum anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi sosio-kultural masyarakat dimana anak didik akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus di singkirkan dari jiwa dan watak anak didik. Bila guru membiarkannya berarti guru telah mengabaikan peranannya sebagai seorang korector, yang menilai dan mengoreksi yang harus guru lakukan, sikap dan perbuatan anak didik. Koreksi yang harus guru lakukan tidak hanya di sekolah tetapi juga diluar sekolah.

11. Pembimbing peran guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan diatas adalah pembimbing. Peran ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap. Manusia dewasa susila adalah manusia yang hidupnya selalu menuruti dan sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku.

12. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka peran sebagai PKn dalam proses belajar mengajar

Berdasarkan uraian diatas maka guru PKn dalam proses belajar mengajar tidak semata-mata memberikan ilmu pengetahuan, tetapi lebih berat lagi dari itu, yakni untuk membentuk prilaku siswa sesuai dengan nilai norma luhur masyarakat bangsa Indonesia yaitun prilaku yang bermoral Pancasila.



c. Upaya guru PKn



1. Gambaran Seorang Guru

Kalau kita bayangkan sejenak pikiran kita kedalam sebuah kelas, dimana sedang berlangsung pengajaran maka akan terlihat akan kita lihat seorang guru sedang mengajar.

Sebelum memulai tugasnya sebagai guru, ia harus memelajari lebih dulu kurikulum sekolah itu dan memahami semua program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Ia pun baru mengenal keadaan gedung ruangan kelas, perpustakaan, fasilitas belajar, perlengkapan sekolah, alat-alat peraga, dan semua sarana yang berguna bagi pengajaran.

Upaya yang dilakukan oleh guru PKn akan berhasil secara optimal apabila dilaksanakan secara rutin, terarah dan berkesinambungan dengan selalu memperhatikan mengenai penerapan pendidikan nilai-nilai yang sangat strategis dan esensial untuk mewujudkan suatu prilaku siswa yang mantap, sebagai warga negara yang baik, untuk itu guru wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut, sebagaiman di nyatakan oleh Prof. Drs. A Kosasih Djahri 1995, yaitu :

1. Memhami masalah nilai moral secara rinci dan layak

2. Menguasai masalah dominan dan taksonomi secara umum dan khususnya dunia apektf.

3. Memahami dan mahir dalam menggunakan pola pembinaan program setiap butir materi PKn secara procedural.

4. Menghayati substansinya berkait tatanan nilai-nilai bidang studi kajian PKn, karena masalah moral serta norma akan terkait dengan substansinya.

5. Menghayati dunia tersembunyi siswa “the hidden” peserta didik yang meliputi :

a) Karakteristik siswa (peserta didik)

b) Asas dan pendidikan belajar siswa (peserta didik)

c) Pengalaman belajar siswa (peserta didik)

d) Kondisi belajar siswa (peserta didik) dan permasalahan yang ada

e) Proyeksi harapan masyarakat

Oleh karena itu, maka para pelaksanaan pendidikan nilai moral hendaknya guru PKn berupaya membina diri dan profesnya menuju hal-hal ditas sehingga apa yang dibina secara pragmatis maupun procedural dan hasilnya memiliki tingkat kelayakan sebagai pendidikan moral









d. Perkembangan Kepribadian



1. Pengertian Kepribadian

Pengajaran lama telah menyebabkan banyak siswa yang mengalami kepribadian yang kurang stabil atau kesehatan mentalnya kurang baik, hal ini disebabkan oleh perasaan inferior yang diproleh oleh siswa selama ia bersekolah, sebabnya ialah ukuran hasil belajar yang tidak sesuai dengan kesanggupannya, siswa melakukan kegiatan yang tidak sesuai minatnya, tidak pernah mengalami rasa semangatnya keberhasilan dan sebagainya.

Sekolah modern berusaha agar perkembangan berjalan seimbang, metode dan bahan pengajaran dimaksud kan untuk membantu perkembangan pribadi yang sehat setiap siswa diberikan kesempatan mengukur kemampuannya sendiri untuk mengalami rasa timbulnya kegaglan, dan kecemasan terhadap kegagalan. Keraena di mana siswa dapat berpartisifasi rasa sukses.

2. Metode dan Tekhnik Mengajar Baru

Sekolah tradisional sangat ditekankan penggunaan metode mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Selain dari itu guru menggunkan metode tugas resitas, sehingga siswa menguasai pengetahuan yang telah diterima. kenaikan kelas ditentukan Berdasarkan penguasaan apa yang telah dipelajari dari dalam buku saja.

Sekolah modern, guru percaya bahwa para siswa akan belajar dengan sepenuhnya secara ekonomis, apabila mereka berpartisifasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang bertujuan dan bermakna baginya. Guru membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa dengan jalan bekerja sama dengan mereka dan menyediakan lingkungan yng bermakna dan sesuai dengan minatnya. Melatih ereka melaksanakan apa yang telah dipelajarinya dan menyediakan tantangan-tantangan yang mendorong mereka mereka untuk belajar lebih maju. Selain dari itu kemjuan siswa ditinjau segi pola pertumbuhan siswa. Setiap akhir tahun setiap siswa maju ketingkat berikutnya sesuai dengan kemampuan.





3. Konsep Baru Disiplin

Sekolah tradisional menggunakan disiplin dengan cara paksa. Kaa-kata guru adalah dianggap sebagai hukum. Motivasi belajar dilakukan dengan dengan menimbulkan ketakutan. Penderitaan jasmaniah, hukuman diberikan dengan menyuruh siswa berdiri si sudut kelas, duduk di bangku berjam-jam lamanya, atau menulis kalimat yang berulang-ulang dipapan tulis.

Sekolah modern memandang siswa sebagai suatu organisme yang sedang berkembang. Para siswa masih belajar tentang tanggung jawab tingkah laku dan dan guru member siswa kesempatan untuk melatih diri membuat keputusan dan mengontrol diri. Para siswa yang malas atau melakukan kributan seharusnya bukan bukan dihukum, melainkan diberikan bimbingan dan diberikan kesempatan melakukan kegaiatn dalam rangka kerja kelompoknya.

4. Perkembangan kepribadian

perubahan-perubahan yang dialami individu atau orgasme secara sistemetis menuju tingkat kedewasannya atau kematangannya, yang berlangsung secara sistemetis, progrsif dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)

Yang dimaksud dengan sistematis, proresif dan berkesinambungan adalah sebagai brikut :

a) Sistematis berarti perubahan dalam perkembangan itu itu bersifat saling mempengaruhi antara bagian-bagian organism (fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.

b) Berkesinambungan berarti perubahan pada bagian atau fungsi oganisme itu berlangsung secara beraturan, tidak terjadi secara kebetlan.

5. Pengukuran dan evaluasi

Sekolah tardisonal mengukur hasil belajar siswa dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan lisan atau tes dalam bentuk esay untuk memeriksa sampai dimana penguasaan pengetahuan yang telah diterimanya.

Sekolah modern, disamping menggunakan berbagai bentuk tes yang objektif, tetapi juga menilai kesehuruhan aspek perkembangan pribadi siswa. Penilaian bukan menjadi tanggung jawab satu orang guru melainkan tanggung jawab bersama. Selain dari itu, siswa sendiri diberi kesempatan menilai kemajuan belajarnya sendiri; diadakan penelitian secara seksama tentang minat, kebutuhan abilitas, dan kesiapan belajar siswa system pemberian angka diperbaiki, tujuan, metode dan bahan pelajaran juga dinilai sejauh mana hal-hal itu bermakna bagi pelajaran siswa.

6. Penggunaan alat-alat audio visual

Sekolah tradisional alat peraga sangat terbatas. Guru hanya menggunakan buku bacaan, gambar, objek alamiah, peta, dan observasi saja.

tetapi berkat kemajuan tekhnologi modern maka sekolah dapat menggunakan slide, gambar hidup, radio, bahkan televisi untuk kepentingan pengajaran disekolah.

Demikian gambaran yang telah dilukiskan dalam uraian diatas, menunjukan kepada kita bahwa tahun-tahun terakhir ini pengajaran telah berkembang sedemikian rupa. Konsekuensi logis dari pada perubahan dan perkembangan. Hal inilah yang menyebabkan tugas dan tanggung jawab guru disekolah modern semakin bertambah besar dan bertambah berat.

7. Lingkungan perkembangan

Urie branprenbrenner dan Ann crouter dikutip oleh Syamsu Yusup LN dalam buku psikologi perkembangan anak dan remaja mengemukakan bahwa lingkunagan perkembangan merupakan berbagai peristiwa, situasi dan kondisi diluar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembanagan inividu lingkungan ini yaitu terdiri dari : (a) fisik yaitu meliputi segla sesuatu dari molekul yang ada disekitar lhir sampai kepad ruangan arsitektur sutatu rumah dan (b) social, yaitu ,eliputi seluruh manusia yang secara potensil memepngaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan individu.

Yang dimaksud dengan lingkungn perkembangan siswa adalah “keseluruhan fenomena (pristiwa, situsi atau kondisi” fisik atau social yang mempengruhi perkembangan siswa. Lingkungan perkembangan siswa yang akan dibahas adalah menyngkut tentang lingkungan keluarga, sekolah kelompok sebaya dan masyarkat

a. Lingkungan keluarga

M.I Soelaeman (1978:4) mengemukakan pendapat mengenai tentang kriterian dan pengertian keluarga yaitu :

1) Keluarga dalam arti luas meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat di bndingkan dengan klien atau keluarga

2) Dalam arti sempit keluarga yaitu meliputi orang tua atau anak

b. Pranan Dan Fungsi Keluarga

Keluarga mempunyai pranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan sikap prilaku anak, perawatan orang tua yang penuh kasih saying dan pendidikan tentang nilai-nilai, kehidupan, baik agama social budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk itu mempersiapkan anak menjadi sikap prilaku dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik dari segi agama maupu status social budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi prilaku dan anggota masyarakat yang sehat.

Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga ) yang yang saling membutuhkan insan, terutama yang sangt dibutuhkan adalah bagi perkembangan kepribinnya, apabila mengaitkan peranan keluarga tentunya dalam upaya untuk memenuhi sikap individu dari maslow, maka dengan keluarga yaitu merupakan suatu lembaga yang pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Maka mengkaji lebih jauh tentang keluarga tersebut ada beberapa hal yang dikemukakan bahwa secara psikoligis keluarga berfungsi sebagai berikut :

a) Pemberi rasa aman bagi anak-anak dan nggota kelurga lainnya

b) Sumber dari segala pemenuhan kebutuhan baik fsik maupun psikis

c) Sumber kasih sayang dan perasaan penerimaan

d) Model pola sikap prilaku tepat bagi anak belaajr menjadi anggota

c. Lingkunag Sekolah

Mengenai dengan peranan sekolah dalam mengembangkan prilaku anak, Hurlock (1986 : 322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan prilaku factor penentu bagi perkembangan prilaku anak, baik dalam segi berpikir, sikap maupun cara berprilaku. Sekolah berperan sebagai substansi keluarga dan guru substansi orang tua, adapun beberapa alas an sekolah memainkan peranan yang sangat berarti bagi perkembangan dan kelangsungan sikap prilaku anak, yautu :

a. Para siswa harus hadir di sekolah tepat waktu

b. Sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini, seiring dengan perkembangan (konsep dirinya)

c. Anak-anak banyak menghabiskan waktu di sekolah daripada di tempat lain diluar rumah

d. Sekolah memberikan kesempatan pertama anak untuk menilai dirinya, dn kemampuannya secara realistic

e. Kelomopok Teman Seraya

Kelompok teman sebaya sebagai bagi para remaja (siswa) mempunyai peranan yang cukup pentng perkembangan kepribadiannya.

Peranan kelompok teman sebaya bagi remaja adalah memberikan kesempatan untuk belajar tentang.

1. Bagaimana berinteraksi dengan orang lain

2. Mengotrol tingkah dengan siswa

3. Mengembangkan sikap terampil

4. Saling berukar perasaan dan masalah

Uraian tersebut menunjukan bahwa kelompok teman sebaya mempunyai konribusi yang sangat positif terhadap perkembangan prilaku anak. Namun disi lain tidak sedikit remaja remaja yang berprilaku menyimpang karena pengaruh teman sebaya. Terhadap remaja berkaitan dengan iklim remaja itu sendiri. Remaja yang mempunyai hubungan hubunan baik dengan orang tuanya cebderung dapat menghindari diri dari pengaruh negative teman sebenarnya.

f. Pengeritian Prilaku

Menuru pendapat Goron Wallport mengemukakan prilaku adalah dinamis dalam arti individu sebagai sistim psikologi yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan dari terhadap lingkupnya.

Dari definisi tersebut ada beberapa unsur yang sangat perlu dijelaskan, yaitu sebagai berikut :

a. Organisasi yang dinamis, maksudnya selalu berkembang dan berubah walaupun ada organisasi system yang mengikar yang mengikat dan menghubungkan berubah sebagai kelompok prilaku

b. Psikofisis ini menunjukan bahwa prilaku bukan semata-mata neural (fisik) tetapi merupakan perpaduan kerja antara aspek psikis dan fisikis dalam kesatuan prilaku

c. Istilah menentukan, berarti bahwa prilaku mengandung kecenderungan-kecemenentukan yang memainkan peranan aktif dalam tingkahlaku individu

d. Unique (khas) ini menunjukan bahwa tidak ada orang yang mempunyai dua prilaku yang sama

e. Menyesaikan diri dengan lingkungan,ini menunjukan bahwa prilaku mengantri individu dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologisnya,kadang-kadang menguasainya.jadi prilaku adalah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan.

Prilaku dapat diartikan sebagai “ kualitas prilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya secara unik“.(Abin Syamsudin Makmun, 1996). Keunikan penyesuaian tersebut sangat berkaitan denga aspek-aspek prilaku itu sendiri,yang meliputi hal-hal berikut :

a. Karakter, yaitu konsekwen tidaknya dalam mematuhi etika prilaku, konsisten atau teguh tidaknya dalam memgang pendirian atau pendapat.

b. Temperamen, yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat/lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang dating dari lingkungan.

c. Sikap, sambutan terhadap objek ( orang, benda, peristiwa, normal dan sebagainya) yang bersifat positif, negative atau mbevien (ragu-ragu).

d. Stabilitas emosional, yaitu kadar kesetabilan reaksi emosional terhadap dari rangsangan lingkungan, seperti: mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih dan putus asa.

e. Rsponsibilitas, yaitu kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan, seperti : mau menerima resiko secar wajar, cuci tangn atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.

f. Sosiabilitas, yaitu disposisi prilku yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Disposisi ini seperti tampak dalam sikap prilaku yang tertutup atau terbuka dalam kemampuan berkombinasi dengan orang lain.



5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prilaku

Anak didik merupakan prilaku yang sedang bekembang. Apabila kita amati, mungkin kita menghadapi dua anak didik yang sama benar. Disamping memiki kesamaan-kesamaan, tentu masing- masing sifat khas, yang hanya dimiliki oleh diri masing-masing. Dikatakan bahwa tiap anak memiliki sifat prilaku yang unik, artinya anak memiliki sifat-sifat yang khas dan hanya dimiliki oleh dirinya sendiri. Keunikan sifat prilaku seseorang itu terbentuk karena dipengaruhi oleh berbagai factor, antara lain faktor interen maupun faktor ekstern, yaitu :

a. Faktor Intern

1) Faktor Fisik

Faktor fisik yang dipandang mempengaruhi prilaku adalah postur tubuh (langsing, gemuk, pendek, atau tinggi), kecantikan, kesehatan, keutuhan tubuh an keberfungsiaan organ tubuh.

2) Faktor Intelegensi

Tingkat intelegensi individu dapat mempengaruhi perkembangan prilaku. Individu yang intelegensinya tinggi atau normal bisa mampu menesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar, sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.



3) Faktor Lingkungan / Pembawaan

Sejak terjadinya konsepsi yakni proses pembuatan sel telur oleh sel jantan, anak memperoleh warisan sifat-sifat pemvawaan dari kedua orang tuanya yang merupakan membawa potensi-potensi tertentu. Potensi ini relative sudah terbentuk yang sukar berubah, baik melalui usaha kegiatan, pendidikan maupun pemberian pengalaman.

4) Faktor Diri

Kehidupan kejiwaan itu terdiri dari perasaan, usaha, pikiran, pandangan, penilaian, keyakinan, sikap dan anggapan yang semuanya akan berpengaruh dalam membuat keputusan tentang tindakan sehari-hari. Seringkali menginterpretasikan pengaruh pembawaan dan lingkungan secara mekanis tanpa memperhitungkan factor lain yang kurang pentingnya bagi pertumbuhan anak yaitu factor diri. Memang pengaruh pembawaan dan lingkungan bagi oertumbuhan anak saling berkaitan dan saling melengkapi, tetapi masalah pertumbuhan belum berakhir tanpa memperhitungkan peranan diri yaitu bagaimana seseorang menggunakan potensi yang dimiliki dan lingkungannya.



b. Faktor Ekstern

1) Keluarga

Suasana atau iklim keluarga atau iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan prilaku anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis, perhatian serta bimbingan dalam kehidupan berkeluarga maka perkembanagan prilaku anak tersebut cenderung positif. Adapun anak yang dikembangkan dalam keluarga broken home, kurang harmonis maka perkembangan prilaku anak cenderung akan mengalami kelainan dalam menyesuaikan diri.

2) Teman Sebaya

Setelah masuk sekolah anak mulai bergaul dengan teman sebaya dan menjadi anggota dari kelomoknya. Pada saat inilah dia mulai mengalihkan perhatiannya untuk mengembangkan sifat-sifat prilku yang cocok atau dikagumi oleh teman-temannya. Bagi anak yang kurang mendapat kasih sayang dan bimbingan keagamaan atau etika dari orang tua biasanya kurang memiliki kemampuan selektif dalam memilih teman dan mudah sekali terpengaruh oleh sifat dan prilaku kelompoknya.

3) Kebudayaan

Setiap kelompok masyarakat ( bangsa, ras/ suku bangsa) memiliki tradisi adat atau kebudayaan yang khas. Tradisi / kebudayaan suatu masyarakat memberikan pengaruh terhadap prilaku setiap anggotanya baik yang menyangkut cara berpikir, bersikap atau berprilaku. Pengaruh kebudayaan terhadap prilaku itu terlihat dari adanya perbedaan antara masyarakat modern yang budayanya relative maju dengan masyarakat primitif yang budayanya relatif masih sederhana.

4) Lingkungan

Sejak anak dalam kandungan anak sudah mendapat pengaruh dari lingkungannya macam dan jumlah makanan yang diterima, keadaan lingkungan dan semua kondisi lingkungan yang baik yang bersifat membantu maupun yang menghambat pertumbuhan sama pentingnya dengan pertumbuhan anak adalah lingkungan social anak yang berupa sikap, prilaku orang-orang disekitar anak.

5) Aspek Penilaian Prilaku

Aspek penilain prilaku sikap yang dilakukan oleh guru PKn di sekolah ada tiga factor yaitu kelakukn, kerajinan dan kerapihan yang biasanya tercantum dalam buku report sebagai bahan penilaian sikap siswa, ada tiga beberapa factor tersebut bahwa menurut Syaeful Bahri Djamarah (2000:103) adalah sebagai beberapa beriku :

a. Kelakuan

- Terlibat perkelahian/tawuran

- Sikap / sopan santun

- Merokok di sekolah

- Mabuk-mabukan terlibat narkotika

- Kabur /bolos meninggalkan kelas pada jam pelajarn

- Suka membangkang

- Pelanggaran lainnya

b. Kerajinan

- Absensi

- Keterlambatan

- Ikut / tidak ikut upacra

- Mengerjakan tugas PR

c. Kerapihan

1) Pakaian seragam

- Memakai

- Memakai badge

- Memakai atribut

- Warna hem an celana/tempelan pada seragam

- Hem selalu dimasukan

- Seragam olah raga

- Rambut cukup pendek bagi pria, dan tersisir rapi

- Kuku pendek dan bersih tanpa alat kosmetik

- Dan sebagaimana

2) pembuatan tugas-tugas

- Rapi

- Teratur

- Tugas selalu dikerjaken

- dan lain-lain



D. Warga Negara



1. Pengertian Warga Negara

Untuk mencari kejelasan tentang konsep warga Negara terlebih dahulu kita harus melihat sub konsep dari warga Negara. Kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga (2001 : 1269) ” Warga Negara adalah penduduk suatu Negara atau bangsa yang berdasarkan keturunan, tempat kelahiran dan sebagainya, mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai warga Negara dari Negara itu”.

Dengan melihat uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan warga Negara adalah anggota / penduduk dari suatu Negara atau bangsa yang berdasarkan ketentuan seperti karena keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai warga Negara dari Negara itu.

Sedangkan pengertian warga Negara menurut W.J.S Purwadirminata (1984:1148) tentang warga Negara adalah “ Anggota dari rakyat suatu Negara yaitu : (1) Penduduk asli suatu Negara, (2) orang asing keturunan sesuai dengan undang-undang sudah masuk menjadi rakyat suatu Negara. Misalnya “ Indonesia – Belanda”.

Mengenai warga negara di Indonesia diatur sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 bab X Pasal 26 yaitu “ Yang menjadi warga Negara adalah orang-orang Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang di syahkan dengan UUD sebagai warga Negara“.

Kemudian dalam penjelasan UUD 1945 Pasal 26 ayat 1 diungkapkan “ orang-orang bangsa lain, misalnya orang peranakan Indonesia-Belanda, Tionghoa dan Arab yang bertempat kedudukan di Indonesia mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat menjadi warga Negara yang baik”. Selain itu isi yang terkandung dari pasal 26 ayat 1 artinya bahwa setiap warga Negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama sehingga antara hak dengan kewajiban tersebut hakekatnya dapat terjalin kehidupan masyarakat yang harmonis dan sebagai manusia setiap warga Negara dilindungi hak asasinya.

Sesuai dengan undang-undang kewarganegaraan no. 62 tahun 1958 yang dikutip dalam buku R. Abdoel Djamali, (1996 : 118) menetukan dasar untuk menjadi warga Negara Republik Indonesia :

1. Kelahiran

a. Bagi seseorang yang pada waktu dilahirkan mempunyai hubungan hukum keluarga dengan ayahnya warga Negara Indonesia.

b. Seorang anak yang lahir dalam 300 hari setelah ayahnya warga Negara Indonesia meninggal dunia.

c. seorang ibu warga Negara Indonesia melahirkan anak dan saat melahirkan tidak mempunyai hubungan hukum kelurga dengan ayahnya.

d. Seorang ibu yang melahirkan anak yang ayahnya tidak dikrtahui kewarganegaraannya.

e. Orang yang lahir dalam wilayah Indonesia dan kedua orang tuanya tidak diketahui.

f. Orang yang lahir dalam wilayah Republik Indonesia dan kedua orang tuanya warga Negara dan tidak diketahui kewarganegaraannya.

g. Orang yang lahir didalam wilayah Republik Indonesia yang pada waktu lahirnya tidak memperoleh kewarganegaraan oleh orang tuanya.

2. Pengangkatan (adopsi)

Kalau anak orang asing belum mencapai 5 tahun dingkat anak oleh seorang warga Negara Indonesia melalui pengadilan negeri didaerah wewenangnya, maka anak itu akan menjadi warga Negara Indonesia.

3. Permohonan dikabulkan

Seorang wanita warga Negara Indonesia melahirkan anak diluar perkawinan atau anak yang dilahirkan pada saat perceraian dengan suami yang orang asing dan atas putusan pengadilan anak itu dibawah perwalian ibunya dapat mengajukan permohonan kepada presiden melalui mentri kehakiman dengan proses pengadilan negeri untuk memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia seperti ibunya dan permohonan itu dikabulkan.

4. Pewarganegaraan (naturalisasi)

Orang asing yang sudah dewasa dapat mengajukan pewarganegaraan menjadi Warga Negara Indonesia melalui pengadilan negeri yang secara profesi mendapat surat keputusan presiden.

5. Akibat Perkawinan

Kalau seorang wanita asing melakukan perkawinan dengan seorang laki-laki warga Negara Indonesia dalam waktu satu tahun setelah kawin menyatakan untuk menjadi Warga Negara Indonesia.

6. Turut Orang Tua

Maksudnya, bagi orang tua yang menjadi Warga Negara Indonesia karena pewarganegaraan maka bagi anak-anaknya yang belum berusia 18 dan belum kawin, karena turut orang tuanya menjadi Warga Negara Indonesia.



2. Karakteristik Warga Negara Yang Baik

Bagi bangsa Indonesia pengakuan pentingnya kedudukan dan tanggung jawab Warga Negara telah jelas terdapat dalm UUD 1945, GBHN dan peraturan perundangan –perundangan yang menggambarkan betapa pentingnya martabat manusia sebagai seorang warga Negara, sekaligus menggambarkan betapa besar kewajiban warga Negara.

Menyadari Warga Negara adalah sumber kekuatan utama dalam pembangunan nasional. Untuk itu kualitas Warga Negara sebagai manusia pembangunan dan sebagai subyek pembangunan harus memilikisumber daya manusia yang baik, oleh karena itu pembangunan berpengaruh terhadap karakteristik manusia pembangunan yang merupakan syarat mutlak bagi setiap warga Negara sebagai insan pembangunan agar pembangunan yang dilakukan tepat sasaran.

Warga Negara yang diharapkan didalam meneruskan perjuangan bangsa dan Negara hanyalah warga Negara yang baik (good sitizenship) yaitu warga Negara yang patriotic, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, loyal terhadap bangsa dan Negara, memiliki sikap toleransi, taqwa terhdap Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki sikap yang demokratis. Menurut Prof. Drs. A. Kosasih Djahiri (1997 : 16) karakteristik warga Negara yang baik adalah :

a) Imtak kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam segala kehidupannya.

b) Melek politik dan hukum.

c) Demokrasi dalam segala kehidupannya.

d) Partisifasi aktif dan membentuk dan membina cific society.

e) Manusia masyarakat modern yang berbudaya Indonesia.

Oleh karena itu peranan pendidikan khususnya guru PKn sangat besar dalam membina warga Negara yang baik, hal ini dapat ditempuh dengan beberapa cara, hal ini dijelaskan oleh Suria Kusumah, dkk (1988 : 1.13 ) sebagai berikut :

a) melatih siswa disekolah dengan sikap-sikap jujur, analitis dan kreatif, loyal, rukun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan, kepentingan prilaku dan kepentingan umum.

b) Melatih memanipestasikan tingkah laku seperti yang diisyaratkan secara obyektif oleh UUD 1945.

c) Melatih mencapai konsesus dalam pergaulan masyarakat sebagai kunci utama dalam kehidupan demokratis.

Sesuai dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa proses pembelajaran PKn dalam membentuk warga Negara yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu dalam proses belajar mengajar disekolah hendaknya diberikan kepada orang yang ahlinya dan benar-benar menguasainya ilmu PKn.



E. Peranan Guru PKn Dalam Proses Belajar Mengajar Dikaitkan Dengan Kepribadian Siswa

Guru PKn adalah salah satu guru yang mempunyai tugas dan peranan lebih banyak dibandingkan dengan guru-guru mata pelajaran lainnya. Sesuai dengan sifat mata pelajarannya, guru PKn selain bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan yang berfungsi untukmengembangkan kemampuan berpikir anak didik, ia pun bertugas untuk menanamkan, mebina dan mengembangkan sikap serta prilaku mereka yang sesuai dengan palsapah bangsa yitu Pancasila.

Peranan dalam proses belajar mengajar yang berkaitan dengan kepribadian siswa meliputi hal sebagai berikut :



1. Guru Sebagi Perencana (Programer / Planner)

Dalam arti, penampilannya saat mengajar didasarkan pada rencan scenario yang dipersiapkan sebelumnya, penyusunan program pengajaran perlu memperhatikan komponen-komponen penting sebagai berikut :

a) Penguasaan materi pelajaran

b) Analisis materi pelajaran

c) Program tahunan dan semester

d) Program satuan pembelajaran

e) Rencana pembelajaran

Dalam merancang program pembelajaran, guru PKn hendaknya memasuki aspek prilaku siswa meliputi : kelakuan, kehadiran dan kerapihan siswa pada saat disekolah sehingga perkembangan prilaku siswa sebagai warga Negara yang baik dan berkembang.

2. Guru Sebagai Evaluator

Dalam arti mampu melalui keadaan dan keberhasilan pembelajaran para siswanya; artinya dalam waktu-waktu tertentu selama satu priode pendidikan selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Guru sebagai evaluator mampu memberikan penilaian terhadap aspek intrinsic dan aspek ekstrinsik yakni menyentuh aspek prilaku siswa sebagai anak didik.



3. Guru Sebagai Pembimbing

Peran guru yang tidak kalah penting dari semua peran yang telah disebutkan adalah pembimbing. Peran ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru disekolah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap. Manusia susila dewasa adalah manusia yang hidupnya selalu menuruti dan sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku.



4. Guru Sebagai Pengelola (Manager Kelas)

Dalam arti mempersiapkan dan menyesuaikan proses belajar mengajar sesuai dengan kondisi keadaan menuju terbinanya kelas yang tertib dan menyenangkan; tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan pasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa belajar dan belajar secara efektif dikalangan siswa. Sebagai manager guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangakan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses intelektual sosial di dalam kelas.



5. Guru sebagai Korektor

Guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda sesuai dengan kondisi sosio-kultural masyarakat diamana anak didik tunggal akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai yang baikharus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak anak didik. Bila guru membiarkannya, bila guru telah mengabaikan peranannya sebagai seorang korektor, yang menilai dan mengoreksi tingkah laku, sikap dan perbuatan anak didik. Koreksi yang harus guru lakukan tidak hanya disekolah tetapi juga diluar sekolah.

Berdasarkan uraian diatas maka proses pembelajaran PKn dalam proses belajar mengajar tidak semata-mata mentransper ilmu pengetahuan, tetapi jauh lebih berat dari itu ykni membentuk prilaku para siswa sesuai dengan nilai moral luhur masyarakat bangsa Indonesia yaitu prilaku yang bermoral Pancasial.

Jika guru PKn dapat menjalankan perannya denagn baik maka tujuan PKn sebagai pelajaran yang mengajarkan tentang moral dengan menitik beratkan pada perubahan siakp dan tingkah laku siswa.































BAB III

METODOLOGI PENELITIAN





Metodologi penelitian ini merupakan salah satu unsur yang berguna dalam suatu penelitian. Tanpa adanya metode dalam suatu penelitian dapat mengakibatkan penelitian. Untuk suksesnya penelitian ini penulis juga menggunakan metode penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian.

Harapan penulis dengan metode penelitian dapat ditentukan dengan cara bekerja yang baik sehingga menghasilkan informasi yang valid dan diakui kebenarannya, dapat memahami objek yang sedang diteliti, serta dapat menemukan jawaban dari permasalahan penelitian, sehingga sesuai dengan tujuan penelitin yang hendak dicapai.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Deskriftif analisis. Metode ini menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 21), adalah :

“ Apabila penelitian bermaksud mengetahaui keadaan sesutu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya, maka penelitiannya bersifat deskriftif, yaitu menjelaskan atau menerangkan peristiwa”.

Agar penelitian ini terarah dan mencapai tujuan yang diharakan maka penulis menetapkan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :



A. Persiapan Penelitian

Sebelum melakukan pengumpulan data, penulis terlebih dahulu melakukan penelitian. Hal ini bertujuan agar pada saat melakukan penelitian dapat berjalan dengan lancar dan dapat menemukan data-data yang diakui validitasnya sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa langkah yang penulis lakukan dalam rangka persiapan penelitian, diantaranya:



1. Penyusunan Instrumen Penelitian

Untuk lebih memudahkan dalam proses penelitian, maka penulis mempersiapkan alat bantu penelitian berupa instrument penelitian. Instrument penelitian yang digunakan peneliti yaitu berupa angket atau kuesioner. Adapun angket yang dibuat dalam penelitian ini berdasarkan pada tujuan penelitian, rumusan masalah, yang selanjutnya disusun kisi-kisi angket. Setelah kisi-kisi angket dibuat maka disusunlah butir-butir pertanyaan yang akan dinerikan kepada responden.

Lankah-langkah yang diambil dalam membuat angket ini meliputi :

a. Membuat kerangka pertanyaan yang berbentuk angket yang yang disertai jawaban-jawaban alternatf.

b. Menyusun urutan pertanyaan, yaitu mengurutkan pertanyan dan alternatif jawaban. Untuk pertanyaan yang dipersiapkan penulis berdasarkan urutan kasus agar responden mudah memahami semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Juga dipersiapkan jawaban menurut uraian tertentu sehingga antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan lainnya saling terkait dan berhubungan.

c. Membuat petunjuk pengisian angket, yaitu untuk mengarahkan responden agar mudah dalam menjawab pertanyaannya. Setelah menyusun angket, selnjutnya penulis melakukan konsultasi mengenai angket yang dibuat kepada dosen pembimbing serta dimintai tanggapan dan komentarnya, baik yang berkenaan dengan isi materi maupun redaksi, sehingga dapat mudah dipahami oleh responden. Disebabkan angket telah dirasa cukup dan memenuhi kriteria dan persyaratan, maka angket tersebut diperbanayak sesuai dengan jumlah sampel/responden yitu 34 orang/eksemplar untuk disebar.

Selain menggunakan angket sebagai instrument penelitian, maka penulis juga menggunakan instrument penelitian berupa wawancara dengan guru-guru Madrasah Aliyah MA Binuangeun dengan harapan data-data yang diperlukan cukup untuk diteliti, sehingga dapat diketahui bagaimana peranan proses pembelajaran PKn terhadap pembinaan tata pergaulan siswa sehari-hari di sekolah.



2. Uji Coba Instrumen Penelitian

Sebelum semua angket disebar semuanya kepada responden, terlebih dahulu penulis menyebarkan angket sebanyak 10 eksemplar sebagai percobaan, agar dapat diketahui apakah instrument penelitian tersebut memnuhi criteria juga apakah item-item pertanyaan dan alternatif jawaban layakuntuk disebar guna penelitian selanjutnya.

Dari hasil konsultasi dengan pembimbing, maka angket sudah layak untuk dijadikan instrument penelitian, dan kemudian penulis menyebarkan angket sebanyak 34 eksemplar.



3. Prosedur Perizinan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian, penulis menempuh prosedur yang telah ditentukan oleh lembaga yaitu :

a. Meminta surat pengantar dari ketua STKIP PGRI Sukabumi

b. Menyampaikan surat pengantar kepada kepala kantor sosial politik Rangkas Bitung untuk memperoleh surat izin penelitian.

c. Setelah mendapat surat izin penelitian yang dikeluarkan oleh kepala kantor social politik, selanjutnya penulis menghubungi pembimbing dan setelah mendapat izin dari pembmbing maka penulis menghubungi guru Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyebarkan angket kepada responden.



B. Penyusunan Alat Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitan terhadap permasalahan yang timbul peneliti menggunakan metode sejalan dengan yang di kemukakan oleh Suharsimi Arikunto (1998:151), bahwa.

“metode penelitian adalah cara yang di gunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Seperti sudah di jelaskan variasi metode di maksud adalah : Angket, Wawancara, pengamatan dan observasi, tes dokumentasi”.

Data-data yang di peroleh penulis juga berasal dari angket wawancara dan dokumentasi. Dengan menggunakan beberapa metode penulis berharap apabila terdapat kekurangan pada metode yang satu dapat di tutup dengan kelebihan dengan metode yang lain.

1. Tekhnik pengumpulan data

Sesuai dengan masalah-masalah yng telah di rumuskan dengan metode penelitian, agar data-data yang aktual dan relevan dapat terkumpul maka penulis mempergunakan beberapa tekhnik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Observasi

Adalah suatu tekhnik penelitian yang di lakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang di teliti dengan melakukan pencatatan secara sistematis. Penulis mengamati langsung kepada beberapa responden yaitu siswa dan siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun Kelas XI.IA

b. Angket

Yaitu tekhnik pengumpulan data dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan tertulis kepada responden. Dalam hal ini penulis menggunakan angket tertutup yaitu angket yang sudah di sediakan oleh penulis dan responden memilih salah satu jawaban saja. Angket merupakan salah satu alat pengumpulan data berupa daftar pertanyaan secara tertulis dengan kemungkinan jawaban yang di berikan kepada responden yaitu siswa dan siswi Kelas XI.IS guna memperoleh data tentang keterlibatan siswa secara aktifdalam proses belajar mengajar PKn di sekolah tentang proses pembelajaran PKN terhadap pergaulan yang baik di sekolah.

c. Wawancara

Selain menggunakan metode angket penulispun mengunakan metode wawancara hal ini di sebabkan agar apabila terdapat sejumlah kelemahan-kelemahan pada angket dapat di tutup dengan wawancara. Sebelum menggunakan wawancara terlebih dahulu penelitian menyiapkan pedoman wawancara agar dengan persiapan ini pelaksanaan wawancara dapat menjadi lancar dan menghasilkan data yang objektif, hal ini sesuai dengan fungsi pedoman wawancara itu sendirin yaitu agar tidak ada inti-inti permasalahan yang tertinggal serta dapat melakukan pencatatan lebih cepat.

d. Studi literatur

Adalah dengan cara mempelajari beberapa buku sumber untuk memperoleh landasan teoritis yang ada hubungannya dengan masalah yang di teliti.

Pokok-pokok yang di ambil dalam metodologi penelitian adalah sebagai berikut :

A. Persiapan Penelitian

1. Penyususnan Instrument Penelitian

2. Uji Coba Instrumen Penelitian

3. Prosedur Perijinan Penelitian

B. Penyususnan Alat Pengumpuln Data

1. Metode Penelitian

2. Tekhnik Pengolahan Data

a. Angket

b. Wawancara

c. Study literature

C. Pelaksanaan Pengumpulan Data

D. Pengolahan Data

1. Seleksi Data

2. Tabulasi Data

3. Penentuan Pedoman Pengolahan



C. Pengumpulan Data

Sebagaimana telah dijelaskan pada tekhnik pengumpulan data, penulis menggunakan tekhnik angket, wawancara, dan study literatur.

Dalam pelaksanaan penyebaran angket, tidak mendapat hambatan yang berarti ini terlihat dari antusiasnya para siswa dalam mengisi/menjawab semua item pertanyaan. Hanya ada beberapa angket yang terlambat dalm pengambilannya.

Begitu juga dengan wawancara, penulis mampu mengadakan wawancara dengan guru-guru Madrasah Aliyah MA Binuangeun untuk landasan teoritis penulis mencari buku-buku, serta surat kabar yang relevan dengan rumusan masalah, meskipun ada bebrapa buku yang sulit ditemukannya, Alhamdulillah penulis berhasil mengumpulkannya dan menyajikannya dalam BAB II

.



D. Pengolahan Data

Untuk menghasilkan data yang valid dari ngket yang terkumpul, maka penyusun mengolah data-data tersebut secara berurutan sesuai dengan item pertanyaan dan menggunakan rumus-rumus yang ada.

Pengolahan tersebut penting sekali dilakukan mengingat yang telah dikumpulkan belum bisa memberikan kesimpulan-kesimpulan.

Langkah-angkah yang ditempuh penulis dalam hal pengolahan data diantaranya:

1. Seleksi data

Langkah awal yang dilakukan penulis dalam pengolahan data adalah memeriksa dan menyeleksi data yang telah terkumpul dari para resonden. Penyeleksian data ini dengan tujuan untuk mengetahui apakah angket yang diterima dari responden memenuhi criteria untuk diolah selanjutnya atau tidak. Angket yang dapat diolah adalah angket yang memenuhi criteria sebagai berikut :

a. Setiap lembar jawaban angket masih lengkap, tidak ada bagian yang rusak atau hilang.

b. Pengisian data para responden sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan.

c. Semua item yang terjawab oleh responden, sedangkan yang masih kosong jerawabannya tidak dimasukan dalam sampel penelitian.

2. Tablasi data

Pengolahan data diantaranya bertjuan untuk mengetahui kecenderungan setiap jawaban dari setiap item pertanyaan.Hal ini dapat dicapai dengan cara mentabulasikan data.Dalam mentabulasikan data terlebih dahulu disediakan lajur-lajur yang sesuai kebutuhan, yang selanjutnya menghitung jumlah frekuensi untuk setiap kategori jawaban dari setiap item.

3. Penentuan Pedoman pengolahan

Untuk dapat menghasilkan suatu kesimpulan terhadap data-data yang diproleh maka harus ditetapkan tehnik pengolahan data yang dipergunakan sebagai pedoman dalam pengolahan.

Penentuan tekhnik pengolahan data dalam suatu penelitian tergantung ada sifat dan jenis data yang diperlukan. Sesuai dengan sifat tersebut maka penulis menetapkan tekhnik perhitungan prosentase sebagai berikut:

a. Metabulasi jawaban

b. Menghitung data dengan menggunakan tekhnik prosentase. Adapun pedoman perhitungan prosentase ini menggunakan rumus sebagai berikut :

P = F/N x 100%

P : Prosentase jawaban

F : Frekuensi jawaban responden

N : Jumlah responden

100% : bilangan tetap

c. Setelah diprosentasekan maka langkah selanjutnya dimasukan kedalam blangko tabulasi data dengan tujuan untuk memudahkan melihat kecenderungan jawaban responden. Dibawah ini ditetapkan skala perhitungan berdasarkan rumus stuges sebagai berikut :



PEDOMAN PENAFSIRAN

PROSENTASE

0 %

1-5 %

6-24 %

25-49 %

50 %

51-74 %

75-94 %

95-99 %

100 % PENAFSIRAN

tidak seorangpun

hampir tidak ada

sebagian kecil

kurang dari setengahnya

setengahnya

lebih dari setengahnya

sebagian besar

hampir seluruhnya

seluruhnya



















BAB IV

LAPORAN HASIL PENELITIAN



A. Penafsiran Data

1. Penafsiran Sementara Tabel I :

Penafsiran penggunaan pengolahan data dalam penelitian penyusunan skripsi menggunakan data dari sampel yang diambil dari kelas II bahasa yang terdiri dari dari 34 siswa sebagian besar menyatakan setuju.

2. Penafsiran Sementara Tabel II :

Penafsiran menunjukan responden menyatakan lebih dari setengahnya (70,6 %) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn selalu dalam keadaan siap untuk mengajar dikelas, kurang dari setengahnya (26,7 %) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn kadang-kadang dalam keadaan siap untuk mengajar dikelas dan hamper tidak ada (2,9 %) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun yang menganggap guru PKn tidak selalu dalam keadaan siap untuk mengajar dikelas.

3. Penafsiran Sementara Tabel III :

Lebih dari setengahnya (67,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalm memberi materi pelajaran dapat dimengerti, kurang dari setengahnya (32,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran kadang-kadang dapat dimengerti dan tidak ada (0%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran tidak dapat dimengerti.

4. Penafsiran Sementara Tabel IV :

Sebagian besar (88,2%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran suka dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi dimasyarakat karena hal itu penting untuk ditanamkan kepada siswa, sebagian kecil (8,8%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran suka dikaitkan denagan peristiwa yang terjadi dimasyarakat karena merupakan materi yang harus disampaikan dan hampir tidak ada (3,0%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran suka dikaitkan denagan peristiwa yang terjadi dimasyarakat hanya karena merupakan suatu keharusan.

5. Penafsiran Sementara Tabel V :

Lebih dari sementara setengahnya (73,3%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran kadang-kadang dihubungkan dengan aspek prilaku siswa karena disesuaikan dengan pokok bahasan yang akan disampaikan, sebgian kecil (23,5%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran selalu dihubungkan dengan aspek prilaku siswa karena hal itu penting dalam membina sikap siswa dan hampIr tidak ada (3,0%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi materi pelajaran tidak Pernah dikaitkan dengan aspek prilaku siswa karena hal itu tidak perlu.

6. Penafsiran Sementara Tabel VI :

Lebih dari setengahnya (55,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam kegiatan belajar mengajar dikelas kadang-kadang lebih banyak menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, sedangkan kurang dari setengahnya (41,1%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam kegiatan belajar mengajar dikelas selalu menggunakan berbagai metode karenamateri akan mudah diserap oleh siswa dan hampir tidak ada (2,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam kegiatan belajar mengajar dikelas tidak pernah menggunakan berbagai metode karena merasa cukup dengan metode ceramah saja.

7. Penafsiran Sementara Tabel VII :

Kurang dari setengahnya (46,5%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam menyampaikan materi pelajaran selalu menggunakan metode yang cepat, sedangkan kurang dari setengahnya (35,3%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam menyampaikan materi pelajaran kadang-kadang menggunakan metode yang tepat dan sebagian kecil (20,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam menyampaikan metode pelajaran tidak selalu menggunakan metode yang tepat.

8. Penafsiran Sementara Tabel VIII :

Lebih dari setengahnya (64,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa metode mengajar yang digunakan guru PKn dapat mengerti sedangkan kurang dari seengahnya (32,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa metode mengajar yang digunakan guru PKn kadang-kadang dapat mengerti dan hampir tidak (1%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa metode mengajar yang digunakan guru PKn tidak dapat dimengerti.

9. Penafsiran Sementara Tabel IX :

Lebih dari setengahnya (64,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa pada saat guru PKn menerangkan pelajaran pernah berbisik ketika menanyakan sesuatu pada teman, kurang dari setengahnya (34,4%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa pada saat guru PKn sedang menerangkan pelajaran kadang-kadang berbisik karena malas belajar dan sebagian kecil (8,8%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa pada saat guru PKn sedang menerangkan pelajaran tidak pernah berbisik karena akan ketinggalan pelajaran.

10. Penafsiran Sementara Tabel X :

Kurang dari setengahnya (44,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan faktor yang menyebabkan adalah karena ada hal penting untuk ditanyakan, kurang dari setengahnya (29,4%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan factor yang menyebabkan adalah karena materi yang disampaikan kurang dimengerti dan kurang dari setengahnya (26,5%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan faktor yang menyebabkan adalah malas karena jenuh.

11. Penafsiran Sementara Tabel XI :

Sebagian besar (85,3%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa sikap guru PKn jika ada siswa yang berbisik-bisik pada saat menerangkan pelajaran maka siswa akan ditegur dan dinasehati, hampir tidak ada (8,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa sikap guru PKn jika ada siswa yang berbisik-bisik pada saat menerangkan pelajaran maka siswa akan dibiarkan saja dan hampir tidak ada (5,8%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa sikap guru PKn jika ada siswa yang berbisik-bisik pada saat menerangkan pelajaran maka siswa akan dikeluarkandari kelas.

12. Penafsiran Sementara Tabel XII :

Setengahnya (50%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh guru PKn supaya siswa tidak mengobrol pada saat menerangkan pelajaran adalah dengan membuat suasana dikelas nyaman, sedangkan kurang dari setengahnya (32,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh guru PKn supaya siswa tidak mengobrol pada saat menerangkan pelajaran adalah dengan menggunakan metode yang bervariasi dan sebagian kecil (17,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh guru PKn supaya siswa tidak mengobrol pada saat menerangkan pelajaran adalah dengan cara mengmbangkan materi pelajaran.

13. Penafsiran Sementara Tabel XIII

Lebih dari setengah (70,7%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun menyatakan bahwa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas tidak pernah meninggalkan atau membolos pada waktu jam. Pelajaran sedang berlangsung karena selalu belajar dikelas, sedangkan kecil (17,6%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas pernah meninggalkan pelajaran atau membolos pada pada waktu jam pelajaran berlangsung karena ada keperluan dan sebagai kecil (11,7%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas kadang-kadang meninggalakan pelajaran atu membolos pada waktu jam pelajaran berlangsung karena mengikuti kata temen.

14. Penafsiran Sementara Tabel XIV

Kurang dari setengahnya (38,2%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor yang menyebabkan siswa meninggalkan pelajaran atau membolos pada waktu jam pelajaran timbul siswa adalah males belajar, sedangkan kurang dari setengahnya (35,3%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun,menyatakan bahwa factor yang menyebabkan siswa meninggalkan pelajaran atau bisa saja membolos yaitu karena ikut-ikut temen dan kurang dari setengahnya (26,5%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor yang mnyebabkan siswa meninggalkan pelajaran atau membols pada pada waktu jam pelajaran adalah karena sibuk di rumah.

15. Penafsiran Sementara Tabel XV

Lebih dari setengahnya (61,7%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa sikap guru PKn jika siswa meninggalakan peljaran atau membolos pada waktu jam pelajaran dalah dengan cara menegur atau menasehati, sedangkan kurang dari setengah (32,3%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa sikap guru PKn jika siswa meninggalkan pelajaran atau membolos pada waktu jama pelajaran adalah dengan cara dipanggil dan diberi sanksi dan hamper tidak ada (6,0%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa sikap guru PKn jika siswa meninggalkan pelajaran atau membolos padawaktu jam pelajaran adalah di seluruh pulang.

16. Penafsiran Sementara Tabel XVI

Lebih dari setengahnya (52,9%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, tidak pernah dating kesekolah dengan tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih karena selalu karena selalu menjaga kerapihhan, kurang dari setengahnya (32,9%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, pernah dating kesekolah dengan tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih karena terburu-buru dan kesekolah dengan tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih ada pemerikasaan.

17. Penafsiran Sementara Tabel XVII

Lebih dari setengahnya (58,8%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebab tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih karena. Males memkai, kurang dari setengahnya (41,2%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebab tidak memakai sergam dengan lengkap dan rapih karena ikut-ikutan temen dan tidak sesorang (0%) siswa menyatakan Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, bahwa factor penyebab tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih karena takut di ejek temen-temen.

18. Penafsiran Sementara Tabel XVIII

Sebagian besar (73,5%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, bahwa sikap guru PKn terhadap siswa yang tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih adalah dengan cara ditegur dan dinasehati, ada sebagian kecil (17,4%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yanh tidak memakai seragam dengan lengka dan rapih adalah dengan cara diberi hukuman, sedangkan sedangkan sebgian kecil lagi (8,8%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa sikap guru PKn terhadap siswa yang tidak memakai seragam lengkap dan rapih adalah dengan membirkan saja.

19. Penafsiran Sementara Tabel XIX

Lebih dari setengahnya (55,9%0 siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan juga bahwa tidak pernah terlibat perkelahian dengan siswa sekolah lain, sebagian kecil (20,6%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa pernah satu kali terlibat perkelahian dengan sekolh karena ikut temen.

20. Penafsirn Sementara Tabel XX

Bahkan kurang dari setengahnya juga (47,0%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebabnya perkelahian dengan siswa sekolah lain karena ikut-ikutan temen pula, kurang dari setengahny (29,9%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa penyebab perkelahian dengan sekolah lain karena balas dendam.

21. Penafsirn Sementara Tabel XXI

Lebih dari setengahnya (61,7%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, sikap guru PKn terhadap siswa yang terlibat perkelahian adalah dengan cara menegur dan menasehati, sebagian kecil (35,4%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang terlibat perkelahian adalah dengan cara menghukum dan mengeluarkan dari sekolah dan hamper tidak ada (2,9%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, yang menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang terlibat perkelahian adalah dengan membiarkan saja (cuek)

22. Penafsiran Sementara Tabel XXII

Lebih dari setengahnya (70%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, yang menyatakan bahwa tidak pernah terlibat narkoba, sebagian kecil (23,3%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa ada siswa yang terlibat narkoba dan sebagian kecil (5,8%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan kadang-kadang terlibat narkoba.

23. Penafsiran Sementara Tabel XXIII

Lebih dari setengahnya (55,9%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebab terlibat narkoba karena ikut-ikutan temen, kurang dari setengahnya (38,2%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebabnya terlibat narkoba karena coba-coba dan sebagian kecil (5,9%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebab terlibat narkoba karena ketagihan (kecanduan) dan kebutuhan.

24. Penafsiran Semetara Tabel XXIV

Lebih dari setengahnya (58,8%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, mentakan sikap guru PKn terhadap siswa yang terlibat narkoba adalah menghukum dan mengeluarkan dari sekolah, kurang dari setengah (41,2%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan sikp guru PKn terhadap siswa yang terlibat narkoba adalah membiarkan saja.

25. Penafsiran Sementara Tabel XXV

Lebih dari setengahnya (67,6%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa pernah terlambat dating kesekolah, kurang dari (29,4%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa tidak pernah terlambat datang ke sekolah dan hmpir tidak ada (3,0%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan sering/selalu datang terlambat

26. Penafsiran Sementara Tabel XXXVI

Sebagian besar (885%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan factor penyebabnya keterlambatan adalah karena tingkat kmalasan anak dalam belajar, hampir tidak ada (8,8%) siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, menyatakan bahwa factor penyebabnya keterlambatan adalah karena sakit dan hampir tidak ada (3,0% siswa Madrasah Aliyah MA. Binuangeun, yang menyatakan bahwa keterlambatan karena malas sekolah.

27. Penafsiran Sementara Tabel XXVII :

Hanpir seluruhnya (97%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang terlambat dating kesekolah adalah dengan menegur dan dinasehati, hampir tidak ada (2,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang terlambat dating kesekolah adalah dengan membiarkan saja dan tidak seorangpun (0%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang terlambat dating kesekolah adalah dengan adalah dengan mengeluarkan dari kelas.

28. Penafsiran Sementara Tabel XXVIII :

Lebih dari setengahnya (52,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa pernah tidak mengerjakan tugas/PR, kurang dari setengahnya (29%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakankadang-kadang tidak mengerjakan tugas/PR dan sebagian kecil (17,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan tidak pernah mengerjakan tugas/PR.

29. Penafsiran Sementara Tabel XXIX :

Lebih dari setengahnya (70,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa factor penyebab tidak mengerjakan tugas/PR adalah karena lupa, sebagian kecil (20,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa factor penyebab tidak mengerjakan tugas/PR adalah tidak bisa karena tidak mengerti dan sebagian kecil (8,8%) Lebih dari setengahnya (70,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa factor penyebab tidak mengerjakan tugas/PR karena malas.

30. Penafsiran Sementara Tabel XXX :

Lebih dari setengahnya (61,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang tidak mengerjakan tugas/PR adalah dengan menegur dan dinasehati, kurang dari setengahnya (32,4%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang tidak mengerjakan tugas/PR adalah dengan menghukum dengan mengerjakan tugas/PR didepan kelas dan hampir tidak ada (5,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang tidak mengerjakan tugas/PR adalah dengan membiarkan saja.

Penafsiran data juga dari hasil wawancara dengan guru PKn sebagai bahan untuk melengkapi hasil dari angket yang telah diisi oleh siswa, maka penulis merasa perlu untuk mengadakan wawancara dengan guru PKn.

Data hasil wawancara tersebut maka dapat ditafsirkan sebagai berikut :

1. Program pengajaran yang diajarkan harus dapat mengembangkan prilaku siswa, terlebih pelajaran PKn

2. Satuan pelajaran sudah dibuat persemester, rencana pengajaran diusahakan untuk selalumempersiapkan setiap memulai kegiatan belajar mengajar (KBM)

3. Dalam memulai kegiatan belajar mengajar guru selalu dalm keadaan siap

4. Dalam proses belajar mengajar diusahakan menggunakan multimetode,atau disesuaikan dengan materi pelajaran serta situasi dan kondisi

5. Metode belajar mengjar yang dapat mengembangkan prilaku siswa sebagai warga negara yang baik : VCT, diskusi dan ceramah bervariasi

6. Tidak terlalu, paling kesulitannya tidak mempunyai buku pegangan atau antara materi secara teoritis dengan kenyataan di lingkungan (missal : dalam pemerintahan) bertolak belakang dalam teori demikian ideal tetapi secara praktis banyak penyimpangan

7. Berusaha untuk tetap memupuk mental siswa agar tetap idealis dan punya prinsip jangan hanya bisa mengkritik orang lain tapi mereka harus bisa berintrospeksi

8. Banyak sekali, apa lagi tantangan dilingkungan demikian berat, misalnya penyakit social yang merajalela ditambah jumlah jam pelajaran yang hanya 2 jam, bagaimana seorang guru PKn bisa mencetak siswa agar menjadi WNI yang baik, sedangkan waktunya sangat minim

9. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah berusaha semaksimal mungkin dengan memanfaatkan waktu yang hanya 2 jam

10. Meniggalkan kelas seizing guru ada, yang nakal jarang sekali, yang bolos ada dan segera ditindak lanjuti baik yang nakal maupun yang bolos

11. Factor yang menyebabakan mereka membolos yaitu : sakit tapi tidak ada yang mengantarkankan surat sehingga tercatat bolos, malas dan terbawa teman

12. Upaya yang dlakukan agar tidak membolos yaitu dengan pembinaan

13. Sebagian besar ia, siswa selalu berpakaian lengkap dan rapih

14. Factor yang menyebabkan mereka tidak berpakaian lengkap dan rapih yaitu : lupa, lalai, dan mengikuti trend mode

15. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal itu yaitu dengan pembinaan, peringatan dan penindakan

16. Sikap siswa terhadap guru didalam kelas dan lingkungan sekolah pada umumnya baik

17. Sikap siswa dalam pergaulan dengan teman sebayanya ada yang baik dan ada yang kurang baik, terutama dalam penggunaan bahasa gaul walau terus diberikan pembinaan

18. Pernah ada siswa yang terlibat perkelahian tapi tidak sering

19. Factor yang melatar belakangi perkelhian tersebut bermacam-macam misalnya : tersinggung, masalah pacar dan karena ikut-ikutan teman

20. Upaya yanga dilakukan yaitu dengan pembinaan mental mereka, mengingatkan pada mereka betapa pentingnya arti persaudaraan, karaena persatuan dan kesatuan Indonesia hanya akan kuat kalau bangsanya bersatu

21. Pernah ada siswa yang terlibat narkoba walau jumlahnya kecil

22. Factor yang melatar belakangi karena gengsi, agar tidak dibilang kuper, terbawa teman dan mencoba

23. Upaya yang dilakukan adalah dengan pembinaan secara intensif bekerja sama semua pihak yang terkait disekolah juga dengan orang tua

24. Siswa yang dating terlambat kesekolah sering, walau jumlahnya sedikit

25. Factor yang menyebabkan mereka dating terlambat kesekolah karena macet

26. Upaya yang dilakukan yaitu selalu diingatkan agar berangkat lebih awal, dan diusahakan agar mereka punya rasa tanggung jawab

27. Siswa yang tidak mengerjakan tugas/PR ada, walau jumlahnya relative kecil

28. Factor yang menyebabkannya karena lupa

29. Upaya yang dilakukannya yaitu dengan menindak lanjuti siswa yang tidak mengerjakan tugas/PR agar tidak mengulanginya

30. Upaya yang dilakukan oleh guru PKn dan mengembangkan prilaku siswa disekolah yaitu selalu mengajak pada mereka untuk selalu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban secara nyata karena dengan kemampuan mereka akan mampu menjaga kepribadiannya. Dan jangan lupa, yang terpenting adalah gurunya dulu yang harus memberikan contoh.



B. Pengujian Hipotesis

Pada pembahasan sebelumnya, penulis telah memberikan penafsiran sementara terhadap setiap data yang telah diperoleh, maka pada bagian ini penulis akan menguraikan lebih lanjut hasil penafsiran tersebut, sehingga langkah ini dapat dijadikan pengujian hipotesis, hipotesis yang penulis ajukan penulis ajukan terdiri dari 4 hipotesis untuk lebih jelasnya penulis akan uji satu persatu, yaitu sebagai berikut :

1. Hipotesis Pertama

“ Jika program pembelajaran PKn memuat rencana pembelajaran dan materi pembelajaran dengan baik, maka prilaku dapat dikembangkan”.

Untuk membuktikan hipotesis pertama maka penulis berpihak pada data hasil wawancara dengan murid dan guru PKn Madrasah Aliyah MA Binuangeun.

Adapun datanya adalah :

1. TABEL II : lebih dari setengahnya (70,6%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn selalu dalam keadaan siap untuk mengajar dikelas

2. TABEL III : lebih dari setengahnya (67,6%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberikan materi pelajaran dapat dimengerti oleh siswa

3. TABEL IV : sebagian besar (88,2%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberi pelajaran suka dikaitkan dengan peristiwa yang terjadirena di masyarakat karena hal itu penting untuk ditanamkan kepada siswa

4. TABEL V : lebih dari setengahnya (73,5%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam memberikn materi pelajaran kadang-kadang dihubungkan dengan aspek prilaku siswa karena disesuaikan dengan pokok bahasan yang disampaikan

1. Jawaban no. 1 : program pengajaran yang diajarkan harus dapat mengembangkan prilaku siswa , terlebih pelajaran PKn

2. Jawaban no. 2 : satuan pelajaran sudah dibuat persemester, rencana pengajaran diusahakan untuk selalu mempersiapkan rencana pengajaran setiap pemberian materi pelajaran

3. Jawaban no. 3 : dalam memulai kegiataan belajar mengajar guru harus dalam keadaan siap agar materi yang disampiakan dalam kelas jadi lebih baik

4. Jawaban no. 6 : guru PKn tidak terlalu banyak menemui kesulitan dalam menyampaikan materi pelajaran paling kesulitannya karena banyak siswa yang tidak mempunyai pegangan atau antara teoritis dengan kegiatan dilingkungan (missal : dalam pemerintahan), materi pelajaran yang disampaikan bertolak belakang dalam teori demikian ideal, secara praktis banyak penyimpangan.

Berdasarkan data hasil wawancara dan hasil angket maka dalam memberikan materi pelajaran, guru PKn harus aspek prilaku yang meliputi sikap yang baik, kehadiran dan kerapihhan yang selalu diingatkan kepada siswa terlebih pelajaran PKn selain itu juga materi pelajaran harus dikaitkan dengan peristiwa actual yang terjadi dimasyarakat karena hal itu penting untuk meningkatkan wawasan para siswa.

Dengan demikian hipotesis pertama yang diajukan penulis dapat di uji kebenaranya.

2. Hipotesis Kedua

“Jika metode yang digunakan oleh guru PKn dalam pembelajaran PKn memperhatikan sikap dan prilaku siswa, maka prilaku siswa sebgai warga negara yang baik akan berkembang”.

Untuk membuktikan hipotesis kedua, maka penulis berpijak pada tabel hasil wawancara dengan guru PKn dan siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun.

Adapun tabel tersebut adalah tabel VI, VII, VIII dan data wawancara no. 4 dan no. 5 yaitu :

1. TABEL VI lebih dari setengahnya (55,9%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam kegiatan belajar dikelas kadan-kadan menggunakan metode ceramh dan Tanya jawab

2. TABEL VII : Kurang dari setengahnya (44,1%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa guru PKn dalam menyampaikan metode pelajaran selalu menggunakan metode yang tepat

3. TABEL VIII Lebih dari setengahnya (64,7%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa metode mengajar yang digunakan oleh guru PKn dapat dimengerti



4. Jawaban no. 4 Metode yang digunakan guru PKn siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun dalam kegiatan belajar mengajar adalah multimetode, dan disesuaikan dengan materi pelajaran serta situasi dan kondisi

5. Jawaban no.5 Metode yang dapat mengembangkan prilaku siswa sebagai warga negara yang baik adalah VCT, diskusi dan ceramah bervariasi

Berdasarkan data hasil angket dan data hasil wawancara, maka kesimpulan sementara dari data tesebut bahwa metode yang digunakan guru PKn dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah metode ceramah dan Tanya jawab tetapi kadang juga menggunakan berbagai metode karena disesuaikan dengan materi pelajaran serta situasi keadaan kondisi

Selain itu juga guru PKn dalam memberikan materi pelajaran harus mempergunakan metode yang tepat dan dapat memperhatikan sikap dan prilaku siswa sehingga dapat mengembangkan prilaku mereka, metode pembelajaranya antara lain VCT, diskusi dan ceramah yang bervariasi

Dengan demikian hipotesis ysng kedua yang diajukan penulis dapat diuji kebenarannya

3. Hipotesis Ketiga

“jika guru PKn memperhatikan faktor internal dan eksternal siswa dalam proses pembelajaran PKn,maka prilaku siswa yang baik dapat terwujud”.

Untuk membuktikan hipotesis yang ketiga, maka penulis berpijak pada tabel dan datahasil wawancara guru PKn dan siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun

Adapun tabel dan data hasil wawancara tersebut adalah tabel IX, X, XIII, XIV, XVI, XII, XIX, XX, XXIII, XXV, XXVI, XXVIII, XXIX, dan data hasil wawancara no.8, 10, 11, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 21,22, 24, 25, 27,

dan 28

1. TABEL IX : Lebih dari setengah (64,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa pada saat guru PKn sedang menerangkan pelajaran pernah berbisik-bisik ketika menyatakan sesuatu pada teman

2. TABEL X : Kurang dari setengahnya (44,7%) dan

siswa/siswi Madrash Aliyah MA Binuangen

menyatakan factor yang menyebabkan mereka

berbisik-bisik pada saat guru sedang

menerangkan pelajaran adalah karena ada hal

yang penting untuk ditanyakan.

3. TABEL XIII : Lebih dari seengah (70,7%) siswa /siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, tidak pernah meniggalkan pelajaran atau membolos pada waktu jam pelajaran berlangsung karena selalu belajar di kelas

4. TABEL XIV : Kurang dari setengahnya (38,2%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa faktor yang menyababkan siswa meninggalkan pelajaran atau membolos pada waktu jam pelajaran adalah karena malas belajar.

5. TABEL XVI : Lebih dari setengahnya (52,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen bahwa tidak pernah datang ke sekolah dengan tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapihh, karena selalu menjaga kerapihhan.



6. TABEL XVII : Lebih dari setengahnya (58,8%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa faktor penyebab tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih karaena malas memakainya

7. TABEL XIX : Lebih dari setengahnya (55,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa tidak pernah terlibat perkelahian dengan siswa sekolah lain

8. TABEL XX : Kurang dari setengahnya (47,0%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa faktor penyebab perkelahian dengan sekolah lain karena ikut-ikutan

9. TABEL XXII : Lebih dari setengahnya (70,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan tidak pernah terlibat narkoba

10. TABEL XXIII : Lebih dari setengahnya (55,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa faktor yang menyebabakan terlibat narkoba ikut-ikutan

11. TABEL XXV : Lebih dari setengahnya (67,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa pernah terlambat datang kesekolah

12. TABEL XXVI : Sebagian besar (88,2%) faktor yang menyebabkan siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen dating kesekolah karena macet

13. TABEL XXVIII : Lebih dari setengahnya (52,9%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa pernah tidak mengerjakan tugas

14. TABEL XXIX Lebih dari setengahnya (70,6%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangen menyatakan bahwa factor yang menyebabkan tidak mengerjakan tugas/PR kareana lupa

15. Jawaban No. 8 : Banyak sekali hambatan dalam menegmbangkan prilaku siswa sebagai warga negara yang baik. Apalagi tantangan dilingkungan sedemikian berat, misalnya : penyakit sosial yang merajalela ditambah dengan jumlah jam pelajaran yang hanya 2 jam. Bagaiman seorang guru PKn bisa mencetak siswa yang memiliki prilaku agar dapat menjadi warga negara yang baik sedangkan waktunya minim.

16. Jawaban No. 10 : Meninggalkan kelas seizing guru, ada. Yang nakal jarang sekali yang ada bolos, walaupun ada segera ditindak lanjuti.



17. Jawaban No. 11 : Faktor penyebab bolos adalah sakit, tetapi tidak ada yang mengantarkan surat keteranagan, dan penyebab yang lain adalah malas dan terbawa teman

18. Jawaban No. 13 : Sebagian besar siswa selalu berpakaian lengkap dan rapih

19. Jawaban No. 14 : Faktor penyebab tidak berpakaian lengkap dan rapih adalah lupa, lalai dan mengikuti trend dan mode.

20. Jawaban No.15 : Sikap siswa terhadap guru diligkungan sekolah baik.

21. Jawaban No. 17 : Sikap siswa dalam pergaulan dengan teman sebayanya ada yang baik dan ada yang kurang terutama dalam penggunaan bahasa gaul, walaupun terus diberikan pembinaan.

22. Jawaban No. 18 : Pernah ada siswa yang terlibat perkelahian dengan sekolah lain tetapi tidak sering.

23. Jawaban No. 19 : Faktor penyebab perkelahian, misalnya tersinggung, masalah pacar dan ikut-ikutan

24. Jawaban No. 21 : Pernah ada siswa yang terlibat narkoba walau jumlahnya kecil

25. Jawaban No. 22 : Faktor penyebab terlibat narkoba adalahkarena gengsi, agar tidak dibilang kuper, terbawa teman dan coba-coba

26. Jawaban No. 24 : Siswa yang terlambat datang kesekolah sering, walaupun jumlahnya relative kecil

27. Jawaban No. 25 : Faktor penyebab daaing terlambat sebagian besar karena malas beljar

28. Jawaban No. 27 : Ada siswa tidak mengerjakan tugas/PR walaupun jumlahnya relative kecil

Berdasarkan data hasil angket dan data hasil wawancara, maka penulis dapat menyimpulkan sementara dari data tersebut adalah dalam mengembangkan prilaku siswa agar menjadi warga negara yang baik , guru PKn menemukan hambatan-hambatan yaitu : faktor internal (factor dari diri siswa yaitu seperti malas) dan faktor eksternal (baik dari guru maupun lingkungan).

Dengan demikian hipotesis ketiga yang diajukan penulis dapat diuji kebenarannya.

4. Hipotesis keempat

“Jika guru melakukan upaya-upaya dalam mengatasi hambatan internal dan eksternal siswa dalam pembelajaran PKn, maka prilaku siswa sebagai warga negara yang baik akan terlaksan”.

Untuk mebuktikan hipotesis keempat maka penulis berpijak pada tabel dan data hasil wawancara dengan guru PKn dan siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun.

Adapun data tersebut adalah tabel XI, XII, XV, XVIII, XXI, XXIV, XXVII, XXX, dan data wawancara No. 7, 9, 12, 15, 20, 23, 26, 29 dan 30

1. TABEL XI : Sebagian besar (85,3%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa sikap guru PKn jika ada siswa yang berbisik-bisik pada saat menerangkan pelajaran, maka siswa akan ditegur dan dinasehati.

2. TABEL XII : Setengahnya (50%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa upayayang dilakukan oleh guru PKn supaya siswa tidak mengobrol pada saat menerangkan pelajaran adalah dengan membuat suasana dikelas nyaman.

3. TABEL XV : Lebih dari setegahnya (61,7%) siswa/siswi Madrasah Aliyah MA Binuangeun menyatakan bahwa sikap guru PKn jika siswa meninggalkan pelajaran atau membolos pada waktu jam pelajaran maka siswa ditegur dan dinasehati.

4. TABEL XVIII : Sebagian besar (73,5%) siswa Madrasah Aliyah MMA. Binuangeun, menyatakan sikap guru PKn terhadap siswa yang tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapih adalah dengan menegur dan menasehatinya.

5. TABEL XXI : Lebih dari setengahnya (61,7%) siswa Madrasah Aliyah MMA. Binuangeun, menyatakan bahwa sikap guru PKn terhadap siswa yang terlibat perkelahian adalah dengan cara menegur dan menasehati

6. TABEL XXIV : Lebih dari setengahnya (50,3%) siswa Madrasah Aliyah MMA. Binuangeun, menyatakanbahwa sikap guru PKn jika ada siswa yang memakai narkoba maka akan dihukum dan di keluarkn dari sekolah

7. TABEL XXVII : Hamper semuanya (97,1%) sikap guru PKn terhadap siswa Madrasah Aliyah MMA. Binuangeun, yang terlambat dating kesekolah adalah dengan cara menegur dan dinasehati

8. TABEL XXX : Lebih dari setengahnya (61,7%) siswa Madrasah Aliyah MMA. Binuangeun, menyatakan bahwa sikap gruru PKn yang tidak mengerjakan tugas adalah dengan cara menegur dan dinasehati

9. Jawaban No.7 : Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan dalam meyampaikan materi pelajaran PKn adalah berusaha untuk tetap memupuk mental siswa agar tetap idealis dan punya prinsip, jangan hanya bisa mengkritik orang lain tetapi harus bisa berintrospeksi diri.

10. Jawaban No.9 : Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan prilaku siswa agar menjadi warga negara yang baik dengan berusaha semaksimal mungkin dengan memanfaatkan waktu yang hanya dua jam.

11. Jawaban No.12 : Upaya yang dilakukan agar siswa tidak mebolos yaitu dengan pembinaan.

12. Jawaban No.15 : Upaya yang dilakukan agar siswa berseragam lengkap dan rapih yaitu dengan pembinaan, pengiratan dan selanjutnya tindakan

13. Jawaban No.20 : Upaya agar siswa tidak terlibat perkelahian yaitu dengan pembinaan mental mereka, mengingatkan pada mereka betapa pentingnya arti persaudaraan, persatuan dan kesatuan karena Indonesia hanya akan kuat kalau bangsanya bersatu.

14. Jawaban No.23 : Sikap terhadap siswa yang terlibat narkoba yaitu dengan pembinaan secara intensif bekerja sama dengan semua pihak baik dengan sekolah maupun orang tua.

15. Jawaban No.26 : Upaya yang dilakukan agar siswa tidak terlambat yaitu dengan selalu mengingatkan agar berangkat lebih awal dan diusahakan agar mereka punya rasa tanggung jawab.

16. Jawaban No.29 : Upaya agar siswa selalu mengrjakan tugas/PR yaitu dengan menindak tegas agar tidak mengulanginya lagi.

17. Jawaban No.30 : Upaya yang dilakukan dalam megembangkan prilaku siswa disekolah adalah selalu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban secara nyata, karena kemampuan itu mereka dapat menjaga setiap tingkah laku dalam sehari-hari dan jangan lupa gurunya dulu yang harus memberikan contoh.



C. Pembahasan Hasil Penelitian

Setelah melakukan penelitian dan pengolahan data yang dilakukan penulis di Madrasah Aliyah MA Binuangeun, maka ini diperoleh data yang dapat membantu pemecahan masalah mengenai peranan proses pembelajaran PPKn terhadap perkembangan prilaku siswa sebagai warga negara yang baik dilingkungan sekolah.

Hasil penelitian tersebut dijabarkan pada beberapa komponen, antara lain :



1. Sekolah : Madrasah Aliyah MA Binuangeun merupakan sekolah yang dikategorikan baik, hal ini dapat dari peserta didik yang dapat mengikuti setiap materi pelajaran PPKn tanpa adanya unsure paksaan

2. Guru PPKn : Keadaan guru PPKn Madrasah Aliyah MA Binuangeun dapat dikategorikan sebagai guru yang baik hal ini terbukti dengan cara guru mengajar, membina sikap/prilaku siswa agar memiliki prilaku yang baik yang merupakan cerminan sikap seorang warga negara yang diharapkan

3. Siswa : Dilihat dari keadaan siwa, siswa Madrasah Aliyah MA Binuangeun dikategorikan siswa yang baik, hal ini terbukti dengan kondisi yang dirasakan disekolah, misalnya bersikap dan berprilaku yang baik terhadap guru maupun teman sebaya, sebagian besar tidak membolos dan tidak meninggalkan pelajaran, memakai seragam dengan lengkap dan rapi serta tidak terlibat narkoba.


0 komentar:

Poskan Komentar

Pengikut